Asuhan Keperawatan Diabetes Mellitus

Posted: February 19, 2011 in Materi Keperawatan
Tags: , ,

DIABETES MELLITUS

A. KONSEP DASAR MEDIS

1. Pengertian

–            Adalah penyakit metabolic yang kebanyakan herediter dengan tanda-tanda hiperglikemia dan glukosuria disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut maupun kronik sebagai akibat dari kurangnya insulin efektif dalam tubuh.gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga dengan gangguan metabolism lemak dan protein ( Askandar, 2000 )

–          Gangren adalah proses atau keadaan yang ditandai dengan adanya jaringan mati atau nekrosis, namun secara mikrobiologis adalah proses nekrosis yang disebabkan oleh infeksi ( Askandar, 2001 )

–          Gangren kaki diabetic adalah luka pada kaki yang merah kehitam-hitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi di pembuluh darah sedang atau besar di tungkai ( Askandar, 2001 )

–          Adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai olehketiadaan absolute insulin atau insensitivitas sel terhadap insulin

–          Diabetes kata yunani berarti mengalirkan / mengalihkan, mellitus kata latin untuk madu atau gula. Jadi DM adalah penyakit dimana seseorang mengeluarkan/ mengalirkan sejumlah besar urine yang terasa manis.

2. Etiologi dan klasifikasi

Ada 3 bentuk DM yaitu :

a.DM tipe I

Adalah penyakit hiperglikemia akibat ketiadaan absolute insulin ( IDDM ).penyakit ini harus mendapat insulin pengganti.sering dijumpai pada orang yang tidak gemuk dibawah usia 31 tahun tapi saat ini dapat timbul pada segala usia

Penyebab DM tipe I :

  • Destruksi sel-sel beta pancreas oleh lingkungan biasanya dicetuskan setelah infeksi virus ( mumps, kubella, juga oleh pajanan atau obat dan toksin golongan niterosamin )
  • Kecenderungan genetic ( gen diabetogenetik ) lokus-lokus gen histokompatibilitas ( mengontrol pengenalan antigen-antigen oleh system imun ) yang dikode pada kromosom b gen terkait insulin spesifik lainnya di kode di kromosom a diduga berperan dalam pembentukan DM tipe I melalui replikasi sel beta.

Karakteristik DM tipe I

  • Pancreas tidak / sedikit hasilkan insulin sehingga kadar glukosa darah meningkat. Pada saat yang sama hati melakukan glukoneogenesis ( substrat asam amino, asam lemak dan glikogen ) konsentrasi substrat ini dalam darah meningkat tidak ada efek insulin. Hal ini menyebabkan sel-sel mengalami kelaparan. Hanya sel darah merah dan otak yang tidak kekurangan glukosa
  • Semua sel lain menggunakan asam lemak bebas hasilkan energy
  • Metabolisme asam lemak bebas pada siklus krebs hasilkan ATP yang diperlukan untuk jalankan fungsi sel
  • Produksi keton oleh hati meningkat.keton bersifat asam sehingga pH plasma meningkay menyebabkan asidosis

b. DM tipe II

Adalah penyakit hiperglikemia akibat insensitivitas sel terhadap insulin.insulin tetap dihasilkan ( sedikit bahkan normal ) NIDDM.sering dijumpai pada usia 30 tahun

Penyebab DM tipe II :

  • Berkaitan dengan kegemukan
  • Factor genetic
  • Penurunan jumlah reseptor insulin terhadap insulin
  • Menghasilkan auto antibody insulin yang berkaitan dengan reseptor insulin

Karakteristik DM tipe II

  • Individu tetap menghasilkan insulin, tapi sering terjadi kelambatan dalam sekresi setelah makan atau berkurangnya jumlah total insulin yang di keluarkan
  • Sel tubuh terutama sel otot dan adipose memperlihatkan resistensi terhadap insulin yang terdapat dalam darah
  • Glukoneogenesis pada hati serta terjadi penguraian simpanan trigliserida protein dan glikogen untuk bahan bakar alternative
  • DM tipe II jarang terjadi ketoasidosis
  1. Diabetes gestasional

Terjadi pada wanita hamil yang sebelumnya tidak mengidap diabetes.50% wanita pengidap kelainan ini akan kembali ke status non diabetes setelah kehamilan berakhir. Namun resiko mengidap DM tipe II pada waktu mendatang lebih besar daripada normal

Penyebab Diabetes Gestasional :

  • Berkaitan dengan peningkatan kebutuhan energy dan kadar estrogen dan hormone pertumbuhan yang terus meninggi selama kehamilan
  • Hormone pertumbuhan dan estrogen merangsang pengeluaran insulin
  • Hormone pertumbuhan memiliki beberapa efek anti insulin glikogenolisis dan penguraian jaringan lemak

Efek diabetes gestasional

  • Risiko malformasi genital
  • Lahir mati
  • Bayi bertubuh besar

 

3. Gambaran klinis

ü  Poliuria

ü  Polidipsia

ü  Rasa lelah dan kelemahan otot akibat katabolisme protein di otot dan ketidakmampuan sebagian besar sel untuk menggunakan glukosa sebagai energy juga karena adanya gangguan vascularisasi

ü  Polifagi akibat keadaan pasca absortif yang kronik, katabolisme protein dan lemak dan kelaparan relative sel-sel sering terjadi penurunan BB

ü  Peningkatan angka infeksi akibat peningkatan konsentrasi glukosa disekresi mucus, gangguan fungsi imun, dan penurunan aliran darah pada penderiata diabetes kronik

4.Komplikasi

Komplikasi akut

v  Ketoasidosis diabetes

  • Dijumpai pada tipe I
  • Perburukan drastic pada semua gejala diabetes
  • Kadar glukosa meningkat secara drastic akibat glukosneogenesis dan penguraian lemak secara progressif untuk pembentukan ATP ketonuria , bau buah pada napas
  • Keton meningkatkan keasaman darah , asidosis metabolic pernapasan kusmaul
  • Timbul poliuria dan dehidrasi, mual muntah yang memperparah dehidrasi sel , kadar kalium total tubuh turun
  • Ketoasidosis mengancam jiwa

v  Koma nonketotik hiperglikemia hiperosmolar

  • Dijumpai pada pengidap DM tipe II
  • Hiperglikemia berat , kadar glukosa darah > 300 mg per 100 ml. osmolalitas plasma meningkat 310 mosml/ltr pengeluaran berliter-liter urine, rasa haus yang hebat, deficit kalium yang parah, koma dan kematian ( 15-20 % )

v  Efek somogy

  • Penurunan kadar glukosa darah pada malam hari diikuti oleh peningkatan pada pagi harinya
  • Hipoglikemia pada malam hari dengan penyuntikan insulin pada sore harinya

v  Fenomena fajar

  • Hiperglikemia pada pagi hari ( antara jam 5 dan jam 9 ) disebabkan karena peningkatan sirkardian kadar glukosa pada pagi hari
  • Dijumpai pada tipe I dan tipe II
  • Dipengaruhi oleh hormone kortisol dan GH
  1. Komplikasi jangka panjang

v  Mikroangiopati

  • Terjadi karena penebalan membrane basal pada pembuluh-pembuluh kecil mungkin berkaitan dengan tingginya kadar glukosa darah
  • Penebalan mikrovaskuler iskemia dan penurunan penyaluran oksigen dan zat-zat ke jaringan
  • Hipoksia kronik merusak dan menghancurkan sel-sel serta menyebabkan hipertensi
  • Gangguan sirkulasi yang buruk
  • Gangguan pada reaksi imun dan peradangan

v  Makroangiopati

  • Oleh karena atherosclerosis sebagai akibat hiperglikemia metabolik glukosa atau tingginya kadar lemak darah
  • Akibat kerusakan tersebut permeabilitas sel endotel meningkatkan molekul-molekul yang mengandung lemak masuk kedalam kerusakan endotel, reaksi imun dan peradangan, pengendapan trombosit, makrofag dan jaringan fibrosa. Sel-sel otot polos berproliferasi, penebalan dinding endotel, hipertensi semakin merusak lapisan sel endotel karena gaya merobek sel-sel endotel, emboli dan stroke

v  Gangguan penglihatan

Retinopati diabetic, tidak mendapat oksigen pada akhirnya timbul kebutaan.

v  Kerusakan ginjal

  • Sering pada glomerulus akibat hipoksia
  • Penebalan kapiler membentuk nodul kimme/stie- Wilson, menghambat aliran darah

v  System saraf perifer

Neuropatik hipoksia kronik sel-sel saraf, demielinisasi segmental saraf-saraf perifer, perlambatan hantaran saraf dan berkurangnya sensitivitas

v  Gangren kaki diabetic

5. Patofisiologi Diabetes Mellitus

  • Sebagian besar gambaran patologik dari DM dapat dihubungkan dengan salah satu efek akibat kurangnya insulin sebagai berikut :
  1. Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel-sel tubuh yang mengakibatkan naiknya konsentrasi glukosa darah setinggi 300-1200 mg/dl
  2. Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang menyebabkan terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan kolesterol pada dinding pembuluh darah
  3. Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh
  • Pasien-pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi sesudah makan. Pada hiperglikemia yang parah yang melebihi ambang ginjal normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160-180 mg/ 100 ml ) akan timbul glikosuria karena tubulus-tubulus renalis tidak dapat menyerap kembali semua glukosa.glikosuria ini akan menyebabkan dieresis osmotic yang menyebabkan poliuria disertai kehilangan sodiumklorida, potassium dan posfat. Adanya poliuria menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi. Akibat glukosa yang keluar bersama urine maka pasien akan mengalami keseimbangan protein negative dan berat badan menurun serta cenderung terjadi polifagi. Akibat yang lain adalah asthenia atau kekurangan energy sehingga pasien menjadi cepat lelah dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energy
  • Hiperglikemia yang lama akan menyebabkan atherosclerosis, penebalan membrane basalis dan perubahan pad saraf perifer ini akan memudahkan terjadinya gangrene

6. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan darah

Meliputi GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa > 120 mg/dl dan 2 jam post prandial >  200 mg/dl

  1. Urine

Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan dilakukan dengan cara benedict ( reduksi ) hasil dapat dilihat melalui perubahan warna pada urine ; hijau (+) kuning (++), merah (+++), dan merah bata (++++)

2.Kultur pus

Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotic yang sesuai dengan jenis kuman

 

7. Pengobatan

Pemberian diet rendah gula tinggi kalori dan rendah lemak

Pemberian obat penurun gula darah/obat hipoglikemia oral ( OHO )

Golongan sulfonisures bekerja dengan cara :

ü  Menstimulasi pelepasan insulin yang tersimpan

ü  Menurunkan ambang sekresi insulin

ü  Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa

  1. Biguanid
  2. Inhibitor alfa glukosidase
  3. Insulin sesitizing agent

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN

 

  1. Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah utama dan dasar dari proses keperawatan yang mempunyai dua kegiatan pokok yaitu :

  • Pengumpulan data

Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu dalam menentukan status kesehatan dan pola pertahanan penderita, mengidentifikasikan, kekuatan dan kebutuhan penderita yang dapat diperoleh melalui anamnese, pemeriksaan fisik pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya

Anamneses meliputi :

  • Identitas penderita
  • Keluhan utama
  • Riwayat kesehatan sekarang
  • Riwayat kesehatan masa lalu
  • Riwayat kesehatan keluarga
  • Riwayat pikososial

Pemeriksaan fisik meliputi :

  • Status kesehatan umum
  • Kepala dan leher
  • System integument
  • System pernafasan
  • System kardiovaskuler
  • System gastrointestinal
  • System urinary
  • System musculoskeletal
  • System neurologis

Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah pemeriksaan darah, urine dan kultur pus

  1. Analisa data

Data yang sudah terkumpul selanjutnya dikelompokkan dan dilakukan analisa data serta sintesa data. Dalam mengelompokkan data dibedakan atas data subjektif dan data objektif dan berpedoman pada teori Abraham Maslow yang terdiri dari :

  • Kebutuhan dasar atau fisiologis
  • Kebutuhan rasa aman
  • Kebutuhan cinta dan kasih sayang
  • Kebutuhan harga diri
  • Kebutuhan aktualisasi diri

Data yang telah dikelompokkan tadi dianalisa sehingga dapat diambil kesimpulan tentang masalah keperawatan dan kemunkinan penyebab yang dapat dirumuskan dalam bentuk diagnose keperawatan meliputi actual, potensial dan kemungkinan

 

 

  1. Penyimpangan KDM Diabetes Mellitus

 

Factor genetic, infeksi

 

 

Penurunan/ tidak ada produksi insulin

 

 

Transport glukosa ke dalam sel

Terganggu

 

 

Tubuh kekurangan                         glikogenolisis                 lipolisis meningkat

Nutrisi

 

Metabolism tubuh                          hiperglikemia                    oksidasi lemak

Menurun                                                                               meningkat

 

 

Kelelahan                              diuretic osmotic               peningkatan benda

Keton

 

Intoleransi aktivitas                          dehidrasi                              asidosis

 

Hipoksia jaringan

gangguan keesimbangan                                                                        nyeri

cairan elektrolit                 Metabolism anaerob

 

Asam laktat

 

 

Pembuluh darah                           saraf                                   nefron

(angiopati)                          (neuropati)                          (nefropati)

 

PD besar             PD kecil       sensasi           motorik               infeksi ginjal

 

Jantung            ggn sirkulasi                      atrofi otot             fungsi dan struktur

Ginjal terganggu

 

Hipoksia jaringan

 

Penyembuhan luka lama                     gangguan perfusi jaringan

 

Kerusakan integritas jaringan

2. Diagnosa keperawatan

Diagnose keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon individu, keluarga atau komunitas terhadap proses kehidupan/ masalah kesehatan actual atau potensial dan kemungkinan dan membutuhkan tindakan keperawatan untuk emecahkan masalah tersebut.

Adapun diagnose keperawatan yang muncul pada pasien ganggren kaki diabetic adalah sebagai berikut :

  1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya/ menurunnya aliran darah ke daerah ganggren akibat adanya obstruksi pembuluh darah
  2. Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya ganggren pada ekstremitas
  3. Gangguan rasa nyaman ; nyeri berhubungan dengan adanya iskemik jaringan
  4. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka
  5. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake makanan yang kurang
  6. Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis ) berhubungan dengan tingginya kadar gula darah
  7. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakitnya
  8. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi

3. Perencanaan

Setelah merumuskan diagnose keperawatan, maka intervensi dan aktivitas keperawatan perlu ditetapkan untuk mengurangi, menghilangkan, dan mencegah masalah keperawatan yang meliputi penentuan prioritas, diagnose keperawatan, menetapkan sasaran dan tujuan, menetapkan kriteria evaluasi dan merumuskan intervensi dan aktivitas keperawatan

  1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya/ menurunnya aliran darah ke daerah ganggren akibat adanya obstruksi pembuluh darah

Tujuan : mempertahankan sirkulasi perifer tetap normal

Kriteria tujuan :

–        Denyut nadi perifer teraba kuat dan regular

–        Warna kulit sekitar luka tidak pucat/ sianosis

–        Kulit sekitar luka teraba hangat

–        Oedema tidak terjadi dan luka tidak bertambah parah

–        Sensorik dan motorik membaik

Rencana tindakan

1.Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi

Rasional : dengan mobilisasi meningkatkan sirkulasi darah

2.Ajarkan tentang factor-faktor yang dapat meningkatkan aliran darah ;tinggikan kaki sedikit lebih rendah dari jantung ( posisi elevasi ) pada waktu istirahat , hindari penyilangan kaki, hindari balutan ketat, hindari penggunaan bantal dibelakang lutut dan  sebagainya

Rasional : meningkatkan kelancaran aliran darah balik sehingga tidak terjadi edema

3. Ajarkan tentang modifikasi faktor-faktor resiko berupa ; hindari diet tinggi kolesterol, teknik relaksasi, menghentikan kebiasaan merokok, dan penggunaan obat vasokontriksi

Rasional : kolesterol tinggi dapat mempercepat terjadinya atherosclerosis, merokok dapat menyebabkan terjadinya vasokontriksi pembuluh darah, relaksasi untuk mengurangi efek dari stress

4. Kerjasama dengan tim kesehatan lain dalam pemberian vasodilator, pemeriksaan gula darah secara rutin dan terapi oksigen

Rasional : pemberian vasodilator akan meningkatkan vasodilatasi pembuluh darah sehingga perfusi jaringan dapat diperbaiki sedangkan pemeriksaan gula darah secara rutin dapat mengetahui perkembangan dan keadaan pasien, pemberian oksigen untuk memperbaiki oksigenisasi daerah ulkus/ ganggren

2. Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya ganggren pada ekstremitas

Tujuan : tercapainya proses penyembuhan luka

Kriteria hasil :

–        Berkurangnya oedema sekitar luka

–        Pus dan jaringan berkurang

–        Adanya jaringan granulasi

–        Bau busuk luka berkurang

Rencana tindakan

1.Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan

Rasional : pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan akan membantu dalam menentukan tindakan selanjutnya

2.Rawat luka dengan baik dan benar ; membersihkan luka secara abseptik menggunakan larutan yang tidak iritatif, angkat sisa balutan yang menempel pada luka dan nefroktomi jaringan yang mati

Rasional : merawat luka dengan teknik aseptic dapat menjaga kontaminasi luka dan larutan yang iritatif akan merusak jaringan granulasi yang timbul, sisa balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses granulasi

3. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin, pemeriksaan kultur pus dan pemeriksaan gula darah, dan pemberian antibiotic

Rasional : insulin akan menurunkan kadar gula darah, pemeriksaan kultur pus untuk mengetahui jenis kuman dan antibiotic yang tepat untuk pengobatan, pemeriksaan kadar gula darah untuk mengetahui perkembangan penyakit

3. Gangguan rasa nyaman ; nyeri berhubungan dengan adanya iskemik jaringan

Tujuan : rasa nyaman nyeri hilang/ berkurang

Kriteria hasil :

–        Penderita secara verbal mengatakan nyeri berkurang/ hilang

–        Penderita dapat melakukan metode atau tindakan untuk mengatasi dan mengurangi nyeri

–        Pergerakan penderita bertambah luas

–        Tidak ada keringat dingin

–        Tanda vital dalam batas normal

Rencana tindakan

1. Kaji tingkat, frekuensi dan reaksi  nyeri yang dialami klien

Rasional : untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami klien

2. Jelaskan pada pasien tentang sebab-sebab timbulnya nyeri

Rasional : pemahaman pasien tentang penyebab nyeri yang terjadi akan mengurangi ketegangan pasien dan memudahkan pasien untuk di ajak bekerjasama dalam melakukan tindakan

3. Ciptakan lingkungan yang tenang

Rasional :rangsangan yang berlebihan dari lingkungan akan memper berat rasa nyeri

4. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi

Rasional : teknik relaksasi dan distraksi dapat mengurangi nyeri yang dirasakan pasien

5. Atur posisi pasien senyaman mungkin sesuai keinginan pasien

Rasional : posisis yang nyaman akan memberikan kesempatan pada otot untuk relaksasi seoptimal mungkin

6. Lakukan masase dan kompres luka dengan BWC saat rawat luka

Rasional : masase dapat meningkatkan vascularisasi dan pengeluaran pus sedangkan BWC sebagai desinfektan yang dapat memberikan rasa nyaman

7. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik

Rasional : obat-obat analgetik dapat membantu mengurangi nyeri pasien

4. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka

di kaki

Tujuan : pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang normal

Kriteria hasil :

  • Pergerakan pasien tambah luas
  • Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan ( duduk ,berdiri ,dan berjalan )
  • Rasa nyeri berkurang
  • Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai dengan kemampuan

Rencana tindakan

  1. Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada pasien

Rasional :untuk mengetahui derajat kekuatan otot-otot kaki pasien

1. Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga kadar gula dalam keadaan normal

Rasional : pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif dengan tindakan keperawatan

2. Anjurkan pasien untuk menggerakkan/ mengangkat ekstremitas bawah sesuai kemampuan

Rasional : untuk melatih otot-otot kaki sehingga berfungsi dengan baik

3. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya

Rasional : agar kebutuhan pasien dapat terpenuhi

4. Kerjasama dengan tim kesehatan lain ; dokter / pemberian analgetik dan fisioterapi

Rasional : analgetik dapat membantu mengurangi rasa nyeri, fisioterapi untuk melatih pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan benar

5. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake makanan yang kurang

Tujuan : kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi

Kriteria hasil :

  • Berat badan dan tinggi badan ideal
  • Pasien memenuhi dietnya
  • Kadar gula dalam batas normal
  • Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/ hipoglikemia

Rencana tindakan

1. Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan

Rasional : untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat

2. Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan

Rasional : kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya hipoglikemia / hiperglikemia

3. Timbang berat badan seminggu sekali

Rasional : mengetahui perkembangan BB pasien ( BB merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet )

4. Identifikasi perubahan pola makan

Rasional : mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang telah ditetapkan

5. Kerjasama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet diabetic

Rasional : pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa kedalam jaringan sehingga gula darah menurun, pemberian diet yang sesuai dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi

6. Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis ) berhubungan dengan tingginya kadar gula darah

Tujuan : tidak terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis )

Kriteria hasil :

  • Tidak ada tanda-tanda infeksi
  • TTV dalam batas normal
  • Keadaan luka baik dan kadar gula darah normal

Rencana tindakan

1. Kaji adanya tanda-tanda infeksi pada luka

Rasional : pengkajian yang tepat tentang tanda-tanda penyebaran infeksi dapat membantu menentukan tindakan selanjutnya

2. Anjurkan kepada pasien dan keluarga untuk selalu menjaga kebersihan diri selama perawatan

Rasional : kebersihan diri yang baik merupakan salah satu cara untuk mencegah infeksi kuman

3. Lakukan perawatan luka secara aseptic

Rasional : untuk mencegah kontaminasi luka dan penyebaran infeksi

4. Anjurkan pada pasien agar menaati diet, latihan fisik, pengobatan yang ditetapkan

Rasional : diet yang tepat, latihan fisik yang cukup dapat meningkatkan daya t ahan tubuh , pengobatan yang tepat, mempercepat penyembuhan sehingga memperkecil kemungkinan terjadi penyebaran infeksi

5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotic dan insulin

Rasional : antibiotic dapat membunuh kuman, pemberian insulin  akan menurunkan kadar gula dalam darah sehingga membantu proses penyembuhan

7. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakitnya

Tujuan : rasa cemas berkurang / hilang

Kriteria hasil :

  • Pasien dapat mengidentifikasikan sebab kecemasan
  • Emosi stabil, pasien tenang
  • Istirahat cukup

Rencana tindakan

1. Kaji tingkat kecemasan yang dialami oleh klien

Rasional : untuk menentukan tingkat kecemasan yang dialami klien

2. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan rasa cemasnya

Rasional : dapat meringankan beban pikiran pasien

3. Gunakan komunikasi terapeutik

Rasional : agar terbina hubungan saling percaya perawat-klien sehingga klien kooperatif terhadap tindakan keperawatan

4. Beri informasi yang akurat tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan

Rasional : informasi yang akurat tentang penyakitnya dan keikutsertaan pasien dalam melakukan tindakan dapat mengurangi beban pikiran pasien

5. Berikan keyakinan pada pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin

Rasional : sikap positif dari tim kesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang dirasakan pasien

6. Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara bergantian

Rasional : pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu

7. Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman

Rasional : lingkungan yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa cemas pasien

8. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi

Tujuan : pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya

Kriteria hasil :

  • Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya
  • Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh

Rencana tindakan

1. Kaji tingkat pengetahuan klien / keluarga tentang penyakit DM dan ganggren

Rasional : untuk memberikan informasi pada pasien / keluarga ,perawat perlu mengetahui sejauhmana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien / keluarga

2. Kaji latar belakang pendidikan pasien

Rasional : agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai dengan tingkat pendidikan pasien

3. Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti

Rasional : agar informasi dapat diterima dengan mudah dan cepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman

4. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan ,manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya

Rasional : dengan penjelasan yang ada dan ikut secara langsung dalm tindakan yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang

5. Gunakan gambar-gambar dalam memberikan penjelasan ( jika ada / memungkinkan )

Rasional : gambar-gambar dapat membantu dalam mengingat penjelasan yang telah diberikan

Pelaksanaan

Pelaksanaan adalah tahap pelaksanaan terhadap rencana tindakan keperawatan yang telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi. Disamping itu juga dibutuhkan keterampilan interpersonal ,intelektual, teknikal yang dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat dengan selalu memperhatikan keamanan fisik dan psikologis. Setelah selesai implementasi, dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang sudah dilakukan dan bagaimana respon pasien

Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Kegiatan evaluasi ini adalah membandingkan hasil yang didapat setelah implementasi keperawatan dengan tujuan yang diharapkan dalam perencanaan

Perawat mempunyai 3 alternatif dalam menetukan sejauhmana tujuan tercapai :

  1. Berhasil ; perilaku pasien sesuai pernyataan tujuan dalam waktu yang ditetapkan di tujuan
  2. Tercapai sebagian ; pasien menunjukkan prilaku tetapi tak sebaik yang dinyatakan dalam pernyataan tujuan
  3. Belum tercapai ; pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan prilaku yang diharapkan sesuai dengan pernyataan tujuan

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Corwin, WJ. ( 2000 ) Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran. EGC : Jakarta

 

Brunner & Suddhart ( 2002 ). Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Penerbit Buku Kedokteran.EGC : Jakarta

 

Doenges ,ME ( 2000 ). Rencana Asuhan Keperawatan untuk Perncanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3 , Penerbit Buku Kedokteran,EGC : Jakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s