Setiap yang bernyawa pasti akan mati

Posted: February 21, 2011 in Nutrisi Kalbu
Tags: ,

Seperti yang kita ketahui setiap mahluk yang bernafas pasti akan melewati kematian, Kematian merupakan sebuah pintu menuju kepada sang pencipta. Mahluk hidup yang saat ini masih bernafas pastilah sudah termasuk didalam antrian yang sangat panjang untuk menghadapi kematian, tinggal masalah waktu kapan akan berada di antrian yang terdepan.

Kita pasti sepakat bahwa zaman sekarang waktu terasa sangat – sangat singkat, detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun akan terus berputar seperti itu.

Kita pasti bertanya – tanya bagaimana  menghadapi kematian, apa rasanya kematian, lalu setelah mati ada apa lagi?.

Kematian adalah sebuah jalan yang pasti akan kita lalui, kematian itu tidak dapat ditunda, dipercepat apalagi dihindari.

Ada suatu kisah tentang Nabi ALLAH IDRIS AS, Nabi Idris As meminta kepada ALLAH SWT untuk merasakan sakaratul maut dan kematian, lalu ALLAH SWT mengabulkan permintaan Nabi IDRIS AS dan memerintahkan Malaikat IZRAIL untuk mencabut nyawa Nabi Idris AS, kemudian Malaikat Izrail segara mencabut nyawa Nabi Idris AS. Selang beberapa waktu setelah Nyawa Nabi Idris AS dicabut oleh Malaikat Izrail dengan segala kebesaran dan kekuasaan ALLAH SWT Nabi Idris AS dihidupkan kembali. Lalu terjadi dialog antara Malaikat Izrail dan Nabi Idris AS, sebagai berikut :

Malaikat Izrail : “Ya Nabi ALLAH bagaimanakah rasanya sakaratul maut itu?”

Nabi Idris AS : “Bagaikan dikuliti hidup – hidup, akan tetapi sakaratul maut itu  100 kali lebih sakit”.

Malaikat Izrail : “Ya Nabi ALLAH saya telah berusaha selembut – lembutnya untuk mengangkat Roh anda”.

Saya gambarkan juga kisah tentang sejarah Nabi Isa As pada saat beliau menghidupkan salah satu keturunan Nabi NUH AS yaitu Sam bin Nuh, pada saat Sam bin Nuh dihidupkan kembali oleh Nabi Isa As atas izin ALLAH SWT terjadi dialog sebagai berikut :

Nabi Isa As : “Bagaimanakah rasanya sakaratul maut?”

Sam bin Nuh : “Saya telah Mati selama 3000 tahun lebih, akan tetapi saya masih dapat merasakan sakaratul maut itu”.

Jadi berdasarkan kisah tersebut kita dapat simpulkan bahwa untuk menuju kematian kita harus menghadapi sakaratul maut (Sekarat), dan kisah – kisah tersebut telah menjawab bagaimana rasanya sekarat itu.

Kita bisa lihat dan buktikan bahwa tidak ada manusia yang terhindar dari kematian, cepat atau lambat pasti kita akan melewatinya. Kita hanya perlu menyiapkan amal baik kita untuk menghadapi kematian, tidak ada satu orang pemimpin pun yang bisa menghindari kematian.

Rasulullah SAW yang mulia pun telah meninggal dan telah melewati kematian, jadi jika kita adalah pengikut Beliau tidak ada alasan untuk kita takut pada kematian. Karena kematian itu adalah sunnahtullah dan Rasulullah SAW sendiri telah melewatinya.

Ada 3 manfaat kepada seseorang yang telah mati :

1. Ilmu yang bermanfaat.

2. Harta yang digunakan dijalan ALLAH SWT.

3. Doa anak yang saleh kepada orang tuanya yang telah tiada.

Kita juga pasti bertanya – tanya kenapa ALLAH SWT merahasiakan kematian mungkin dibawah ini bisa menjadi jawabannya.

1. Agar kita tidak cinta dunia.

2. Agar kita tidak menunda – nunda amal kebaikan.

3. Agar kita tidak mendekati kemaksiatan atau perbuatan yang buruk.

4. Agar kita taat beribadah.

5. Agar kita selalu siap dalam menghadapi kematian

 

 

Kematian itu pasti adanya. Ia ibarat “pintu”, setiap orang pasti akan memasukinya. Ia juga laksana “gelas”, setiap yang bernyawa pasti akan ‘mencicipinya’. Hakikat ini telah dinyatakan di dalam Kitabullah, “Tiap-tiap jiwa (yang bernyawa) akan merasakan kematian.” (Qs. Ali ‘Imrân [3]: 185).

Ya, kematian itu pasti datang. Ia bak pencuri: datang tanpa kaki dan mengambil nyawa manusia tanpa tangan. Dan, ia datang tidak pernah ‘ketuk pintu’ dan mengucapkan salam. Dia datang tiba-tiba. Namun, dia pasti datang.

Imam ‘Ali karramallâhu wajhah pernah bertutur tentang hakikat kematian ini. “Jika hari kematianku telah tiba, bagaimana aku bisa lari dari kematian itu, hari dimana telah ditakdirkan untuk tidak bisa atau bisa. Hari yang ditakdirkan itu tidak aku takuti, karena yang telah ditakdirkan mati, tidaklah selamat dari kepastiannya.” Itulah kematian.

Tidak Ada Tempat Lari…

Tidak seorangpun mampu melarikan diri dari kematian. Bahkan, kematian itu yang akan menemui kita, kapan dan dimanapun. “Katakanlah (wahai Muhammad) bahwa kematian yang kalian lari daripadanya, dia akan menemui kalian…” (Qs. Al-Jumu‘ah [62]: 8). Kita pun tidak dapat bersembunyi darinya: “Di mana saja kalian berada, kematian itu akan mendapatkan kalian, kendatipun kalian bersembunyi di balik benteng yang sangat tinggi lagi kukuh…” (Qs. Al-Nisâ’ [4]: 78).

Pesan ‘Ali ibn Abi Thalib…

Kematian bukan untuk ditakuti. Karena takut atau tidak takut, kematian akan datang. Yang penting adalah persiapan untuk menghadapi waktu datangnya kematian. Maka, ada dua hal penting berkenaan dengan kematian ini: [1] Banyak mengingatnya. Jangan lalai dalam hal ini. Kematian harus memiliki file spesial dalam qalbu kita. “Perbanyklah mengingat kematian, sebab seorang hamba yang banyak mengingatnya, maka Allah akan menghidupkan hatinya dan akan menghilangkan baginya rasa sakit kematian itu.” (HR. Al-Dailami); dan [2] Bersiap-siap dalam menyambutnya. Kita harus mempersiapkan amal sebanyak-banyak untuk kematian. Al-Ashbu’ al-Hanzhali menceritakan bahwa menjelang kematiannya, Imam ‘Ali bersenandung lewat bait syair:

bersiaplah menghadapi kematian,

karena kematian niscaya menjumpaimu,

janganlah engkau takut akan kematian

saat ita telah berada di lembahmu

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s