Fisiologi Penyembuhan Luka

Posted: March 19, 2011 in Materi Keperawatan
Tags: , , ,

 

 

Proses fisiologis penyembuhan luka dapat dibagi kedalam 4 fase utama yaitu :

  1. Respon infllamasi akut terhadap cedera ; mencakup hemostasis, pelepasan histamin dan mediator laindari sel-sel yang rusak dan migrasi sel darah putih ( leukosit polimorfonuklear dan makrofag ) ke tempat yang rusak tersebut
  2. Fase destruktif ; pembersihan jaringan yang mati dan yang  mengalami devitalisasi oleh leukosit polimorfonuklear dan makrofag
  3. Fase proliferatif ; yaitu pada saat pembuluh darah baru, yang diperkuat oleh jaringan ikat menginfiltrasi luka
  4. Fase maturasi ; mencakup re-epitalisasi, kontraksi luka dan re-organisasi jaringan ikat

 

 

No Fase dan ringkasan proses fisiologis Durasi fase Implikasi untuk penatalaksanaan luka
1 RESPON INFLAMASI AKUT TERHADAP CEDERA

Hemostasis : vasokonstriksi sementara dari pembuluh darah yang rusak terjadi pada saat sumbatan trombosit dibentuk dan diperkuat juga oleh serabut fibrin untuk membentuk sebuah bekuan

Respon jaringan yang rusak : jaringan yang rusak dan sel mast melepaskan histamin dan mediator lain sehingga menyebabkan vasodilatasi dari pembuluh darah sekeliling yang masih utuh serta meningkatnya penyediaan darah ke daerah tersebut, sehingga menjadi merah dan hangat. Permeabilitas kapiler-kapiler darah meningkat dan cairan yang kaya akan protein mengalir kedalam spasium interstisial menyebabkan edema lokal dan mungkin hilangnya fungsi di atas sendi tersebut. Leukosit polimorfonuklear ( polimorf ) dan makrofag mengadakan migrasi keluar dari kapiler dan masuk kedalam daerah yang rusak sebagai reaksi terhadap agens kemotaktik yang dipacu oleh adanya cedera

0-3 hari Fase ini merupakan bagian yang esensial dari proses penyembuhan dan tidak ada upya yang dapat menghentikan proses ini kecuali jika proses ini terjadi pada kompartemen tertutup dimana struktur-struktur penting mungkin tertekan ( mis ; luka bakar pada leher ) meski demikian jika hal tersebut diperpanjang oleh adanay jaringan yang mengalami devitalisasi secara terus-menerus, adanya benda asin, pengelupasan jaringan yang luas, trauma kambuhan, atau 0oleh penggunaan yang tidak bijaksana preparat topikal untuk luka, seperti antiseptik, antibiotik atau krim asam, sehingga penyembuhan diperlambat dan kekuatan regangan luka menjadi tetap rendah. Sejumlah besar sel tertarik ke tempat tersebut untuk bersaing mendapatkan gizi yang tersedia.inflamasi yang terlalu banyak dapat menyebabkan granulasi yang berlebihan pada fase III dan dapat menyebabkan jaringan parut hipertropik. Ketidaknyamanan karena edema dan denyutan pada tempat luka juga menjadi berkepanjangan
2 FASE DESTRUKTIF

Pembersihan terhadap jaringan mati atau yang mengalami devitalisasi dan bakteri oleh polimorf dan makrofag. Polimorf menelan dan menghancurkan bakteri. Tingkat aktivitas polimorf yang tinggi hidupnya singkat saja dan penyembuhan dapat berjalan terus tanpa keberadaan sel tersebut. Meski demikian penyembuhan berhaenti bila makrofag mengalami deaktivasi. Sel-sel tersebut tidak hanya mampu menghancurkan bakteri dan mengeluarkan jaringan yang mengalami devitalisasi serta fibrin yang berlebihan tetapi juga mampu merangsang pembentukan fibroblas yang melakukan sintesa struktur protein kolagen dan menghasilkan sebuah faktor yang dapat merangsang angiogenesis ( fase III )

1-6 hari Polimorf dan makrofag mudah dipengaruhi oleh turunnya suhu pada tempat luka sebagaimana yang dapat terjadi bilamana sebuah luka yang basah dibiarkan tetap terbuka, pada saat aktivitas mereka dapat turun sampai nol. Aktivitas mereka dapat juga dihambat oleh agens kimia, hipoksia dan juga perluasan limbah metabolik yang disebabkan karena buruknya perfusi jaringan.
3 FASE PROLIFERASI

Fibroblast meletakkan substansi dasar dari serabut-serabut kolagen serta pembuluh darah baru mulai menginfiltrasi luka. Begitu kolagen diletakkan, maka terjadi peningkatan yang cepat pada kekuatan regangan luka. Kapiler-kapiler dibentuk oleh tunas endotelial, suatu proses yang disebut angiogenesis. Bekuan fibrin yang dihasilkan pada fase I dikeluarkan begitu kapiler baru menyediakan enzim yang diperlukan. Tanda-tanda inflamasi mulai berkurang. Jaringan yang dibentuk dari gelung kapiler baru yang menopang kolagen dan substansi dasar disebut jaringan granulasi karena penampakannya yang granuler.warnanya merah terang.

3-24 hari Gelung kapiler baru jumlahnya sangat banyak dan rapuh serta mudah sekali rusak karena penanganan yang kasar misal menarik balutan yang melekat. Vitamin C penting untuk sintesis kolagen. Tanpa vitamin C sintesis kolagen berhenti, kapiler darah baru rusak dan mengalami perdarahan serta penyembuhan luka terhenti. Faktor sistemik lain yang dapat memperlambat penyembuhan pada stadium ini termasuk defisiensi besi, hipoproteinemia serta hipoksia. Fase proliferatif terus berlangsung secara lebih nlambat seiring dengan bertambahnya usia.
4 FASE MATURASI

Epitelisasi, kontraksi danreorganisasi jaringan ikat : dalam setiap cedera yang mengakibatkan hilangnya kulit, sel epitel pada pinggir luka dan dari sisa-sisa folikel rambut, serta glandula sebasea dan glandula sudorifera, membelah dan mulai bermigrasi diatas jaringan granula yang baru. Karena jaringan tersebut hanya dapat bergerak diatas jaringan yang hidup, maka mereka lewat dibawah eskar atau dermis yang mengering. Apabila jaringan tersebut bertemu dengan sel-sel epitel lain yang juga mengalami migrasi maka mitosis berhenti akibat inhibi isi kontak. Kontraksi luka disebabkan karena miofibroblas kontraktil yang membantu menyatukan tepi-tepi luka. Terdapat suatu penurunan progresif dalam vaskularitas jaringan parut yang berubah dalam penampilannya dari merah kehitaman menjadi putih. Serabut-serabut kolagen mengadakna reorganisasi dan kekuatan regangan luka meningkat

24-365 hari Luka masih sangat rentan terhadap trauma mekanis ( hanya 50 % kekuatan regangan normal dari kulit diperoleh kembali dalam 3 bulan pertama )  epitelisasi terjadi sampai tiga kali lebih cepat dilingkungan yang lembab ( dibawah balutan oklusif atau balutan semipermiabel ) daripada lingkunag yang kering. Kontraksi luka biasanya merupakan suatu fenomena yang sangat membantu yakni menurunkan daerah permukaan luka dan meninggalkan jaringan parut yang relatif kecil tetapi kontraksi berlanjut dengan buruk pada daerah tertentu seperti diatas tibia dan dapt menyebabkan distorsi penampilan pada cedera wajah. Kadang jaringan fibrosa pada dermis menjadi sangat hipertrofi, kemerahan dan menonjol yang pada kasus ekstrim menyebabkan jaringan parut keloid tidak sedap dipandang

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s