Tuberkulosis Paru

Posted: May 19, 2011 in Materi Keperawatan
Tags: , , ,


1. Pengertian dan penyebab tuberculosis paru

Tuberculosis adalah penyakit ifeksius yang terutama menyerang parenkim paru. TB dapat juga di tularkan ke bagian tubuh lainnya termasuk meningens, ginjal, tulang, dan nodus limfe. Mycobacterium tuberculosis adalah batang aerobic tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitive terhadap panas dan sinar ultraviolet(Smeltzer,2006)

Kuman ini berbentuk batang yang tahan asam pada pewarnaan dan berukuran kira-kira 0,5 – 4 mikron x 0,3 – 0,6 mikron. Kuman ini terdapat dalam butir – butir percikan dahak di sebut droplet nuclei dan melayang di udara untuk waktu yang lama sampai terhisap oleh orang atau mati dengan sendirinya kena sinar matahari langsung.(Misnadiarly,2006)

2. Insiden

Secara epidemiologi, WHO melaporkan 10 – 20 juta penderita di dunia mempunyai kemampuan menularkan penyakit tuberculosis. Angka kematian karena tuberculosis paru sekitar 3 juta penderita tiap tahun. Keadaan ini sebangian besar atau hamper 75% didapatkan di Negara yang sedang berkembang dengan sosio-ekonomi yang rendah. Di Indonesia, penyakit ini merupakan penyakit rakyat nomor satu dan sebangai penyebab kematian nomor tiga(Alsagaff,2008)

Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehlangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Selain merungikan secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara social – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat (Depkes RI,2006).

3. Cara penularan

Jika seseorang penderita penyakit menular meludah di atas tanah, maka bakteri yang ada dalam ludah itu akan mampu hidup dalam waktu yang lama, kemudian dibawa oleh angin bersama dengan debu-debu yang terbawa angin, maka sampailah kepada orang yang sehat ketika ia menghirup udara itu.

Penularan penyakit TBC adalah melalui udara yang tercemar oleh Mikobakterium tuberkulosa yang dikeluarkan oleh si penderita TBC saat batuk, dimana pada anak-anak umumnya sumber infeksi adalah berasal dari orang dewasa yang menderita TBC. Bakteri ini masuk kedalam paru-paru dan berkumpul hingga berkembang menjadi banyak (terutama pada orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah), bahkan bahteri ini pula dapat mengalami penyebaran melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening sehingga menyebabkan terinfeksinya organ tubuh yang lain seperti otak, ginjal, saluran cerna, tulang, kelenjar getah bening dan lainnya meski yang paling banyak adalah organ paru.

4. Resiko penularan

Resiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien TB Paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan resiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negative (Depkes RI, 2006)

Resiko penularan TB setiap tahun (Annual  Risk of Tuberculosis Infektion) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara  1-2%. Pada daerah sebesar 1% berarti setiap tahun diantara 1.000 penduduk, ada 10 orang yang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita penyakit TB. Hanya 10 yang akan menjadi penderita TB. Dari keterangan tersebut dapat diperkirakan bahwa daerah dengan ARTI 1%, maka diantara 100.000 penduduk rata rata terjadi 100 penderita TB setiap tahun, dimana 50% diantaranya adalah BTA positif (Depkes RI, 2006)

Secara umum bahwa penularan penyakit TB tergantung dari beberapa factor seperti jumlah kuman yang ada, tingkat keganasan kuman itu, dan daya tahan tubuh orang yang tertulari

5. Keluhan dan gejala penyakit

Keluhan dini sangat perlu di ketahui karena diagnosis sering tidak dapat di tegakkan pada stadium permulaan, sehinnga terjadi kerusakan paru yang luas. Selain itu kebanyakan kasus tuberculosis sekunder dapat menularkan penyakit ini, terutama pada anak kecil (Sibuea,2005)

Gejala klinik penyakit TB paru adalah :

  1. Batuk, gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering di keluhkan. Biasanya batuk ringan sehingga dfianggap batuk biasa atau akibat rokok. Proses yang paling ringan ini menyebabkan secret akan terkumpul pada waktu penderita tidur dan dikeluarkan saat penderita bangun pagi hari. Bila proses destruksi berlanjut, secret di keluarkan terus menerus sehingga batuk menjadi lebih dalam dan sangat menggangu penderita pada waktu sinag maupun malam hari
  2. Dahak, awalnya bersifat mukoid dan keluar dalam jumlah sedikit, kemudian berubah menjadi purulen atau kuning hijau sampai purulen dan berubah menjadi kental bial sudah terjadi pengejuan dan perlunakan. Jarang berbau busuk kecuali bila ada infeksi anaerob
  3. Batuk darah, jarang merupakan tanda permulaan dari penyakit tuberculosis atau initial symptom karena batuk darah merupakan tanda telah terjadinya ekskavasi dan ulserasi dari pembuluh darah pada dinding kavitas
  4. Nyeri dada pada TB paru, termasuk nyeri pleuritik yang ringan
  5. Wheezing, terjadi karena penyempitan lumen bronkus yang di sebabkan oleh secret,bronkostenosis, peradangan, jaringan granula, ulserasi dan lain-lain
  6. Dispneu merupakan late symptom dari proses lanjut tuberculosis paru akibat adanya restriksi dan abstruksi saluran pernafasan serta loss of vascular bed/thrombosis yang dapat mengakibatkan gangguan difusi, hipertensi pulmonal dan korpulmonal

Gejala umum yang biasanya muncul adalah :

  1. Panas badan merupakan gejala yang paling sering di jumpai dan paling penting. Seringkali panas badan meningkat pada siang maupun sore hari. Panas badan meningkat atau menjadi lebih tinggi bila proses berkembang menjadi progresif sehingga penderita merasakan badannya hangat atau muka terasa panas
  2. Menggigil, dapat menjadi bila panas badan naik dengan cepat, tetapi tidak di ikuti pengeluaran panas dengan kecepatan yanmg sama atau dapat terjadi sebagai suatu reaksi imun yang lebih hebat
  3. Keringat malam umumnya baru timbul bila proses telah lanjut, kecuali pada orang orang dengan vasomotor labil, dapat timbul lebih dini
  4. Ganguan menstruasi sering terjadi bila proses TB sudah menjadi lanjut
  5. Anoreksia meruapakan manifestasi toksemia yang timbul belakangan dan labih sering di keluhkan  bila proses progresif
  6. Lemah badan dapat di sebabkan oleh kerja berlebihan, kurang tidur dan keadaaan sehari –hari yang kurang menyenangkan, karena itu harus dinanalisa dengan baik dan harus lebih berhati-hati apabila di jumpai perubahan sikap dan temperamen, perhatian penderita kurang atau menurun pada pekerjaan, anak yang tidak suka bermain atau penyakit yang kelihatan neurotic.

Gejala umum ini seringkali baru diasadari oleh penderita setelah ia memperoleh terapi dan saat ini masih lebih baik dari sebelumnya

(retrospective symptomatology, Alsagaff, 2008)

6. Diagnosis

  1. Anamnesis, yaitu mengenai gejala, riwayat penyakit, riwayat kontak dengan penderita TB
  2. Pemeriksaan makroskopis bakteri : cara SPS, metode pengecatan Ziehl Nellson, pembacaan skala IUATLD, skala Bronkhorst
  3. Radiologis, lesi multiform aktif : infiltrate, konsolidasi, noduler, milier, cavitas, efusi. Lesi inaktif : fibrotic, kalsifikasi, scwarte. Digunakan untuk membedakan lesi minimal dan lesi luas
  4. Uji tuberculin, berdasar reaksi sensitivitas tipe 4, dimana basil TB memproduksi tuberculoprotein yang merangsang munculnya reaksi tersebut
  5. Pemeriksaan darah di pakai untuk mengetahui aktivitas penyakit

(Budiyanto,2009)

Klasifikasi diagnostic TB paru adalah :

  • TB paru

1)      BTA mikroskopis langsung(+) atau biakan(+), kelainan foto thoraks menyokong TB, dan gejala klinis sesuai TB

2)      BTA mikroskopis langsung atau biakan (-), tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai TB dan memberikan perbaikan pada pengobatan awal anti TB, pasien golongan ini memerlukan pengobatan yang adekuat

  • Tb paru tersangka

Diagnosis pada tahap ini bersifat sementara sampai hasil pemeriksaan BTA di dapat(paling lambat 3 bulan). Pasien sdengan BTA mikroskopis langsung(-) atau belum ada hasil pemeriksaan atau pemeriksaan belum lengkap, tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai TB paru. Pengobatan dengan anti TB sudah dapat dimulai

  • Bekas TB (tidak sakit)

Ada riwayat TB pada pasien di masa lalu dengan atau tanpa pengobatan atau gambaran rontgen normal atau abnormal tetapi stabil pada foto serial dan sputum BTA (-), kelompok ini tidak perlu di obati

7. Pengobatan

Pengobatan bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT (Susanti, 2008)

WHO dan IUATLD merekomendasikan panduan OAT standar yaitu :

1)      Kategori I (2HRZE/4H3R3)

  1. Tahap intensif terdiri dari izoniasid (H), Rifampicin®, Pirazinamid(Z) dan Etambutol. Obat obat tersebut di berikan setiap hari selama 2 bulan kemudian din teruskan dengan tahap lanjutan yang terdiri dari isoniasid, ripampicin, diberikan 3 kali dalam seminggu selama 4 bulan
  2. Kategori II (2HRZES/HRZE/5H3R3E3)
  3. Tahap intensif diberikan selama 3 bulan yang terdiri dari 2 bulan dengan isoniasid, ripampicin, pirazinamid, dan etambutol dan suntikan streptomisin setiap hari di UPK

2)      Kategori III(2HRZ/4H3R3)

  1. Tahap intensif terdirin dari HRZ diberikan setiap hari selama 2 bulan di teruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari HR selama 4 bulan diberikan 3 kali seminggu

3)      OAT sisipan (HRZE)

Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1 atau penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2, hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif, di berikan obat sisipan setiap hari selama 1 bulan

8. Pencegahan

Pencegahan penyakit TB memang selalu merupakan salah satu tofik menarik. Pada tahun 1921 mulailah dikenal pemeriksaan BCG sebagai imunisasi untuk mencegah tuberculosis

Selain pemberian imunisasi BCG para ahli juga memperkenalkan pemberian obat INH selama 6 bulan atu satu tahun untuk mencegah terjadinya penyakit pada mereka yang telah pernah kemasukan kuman tuberculosis. Selain INH ada juga ada juga menganjurkan penggunaan Rifampicin dan Pirazinamid selama 2 atau 3 bulan sebagai upaya pencegahan penyakit ini

Dari sudut lain, cara pencegahan terjadinya penyakit adalah dengan mencegah penularan dari penderita. Untuk itu para openderita di harapkan tidak membetukkan dahaknya di sembarang tempat, dan menutup mulutnya ketika batuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s