Pengertian kateterisasi

Kateterisasi uretra adalah suatu tindakan prosedural mengeluarkan urin melalui orificium uretra kedalam kandung kemih dengan menggunakan kateter steril ( Depkes RI, 2006 ). Pengertian lain katererisasi uretra adalah memasukkan kateter ke dalam buli-buli melalui uretra ( Purnomo, 2006 ). Istilah kateterisasi ini sudah dikenal  sejak zaman Hipokrates yang pada waktu itu menyebutkan tentang tindakan instrumentasi untuk mengeluarkan cairan tubuh.

Kateterisasi menetap adalah dengan memasang kateter dan dilakukan fiksasi dengan mengembangkan balon fiksasi sampai beberapa lama (kateter foley).

Gambar 2. Pemasangan kateter uretra

Sumber : www.emedicinehealth.procedure catheter ureter.com

 Tujuan kateterisasi

Tindakan kateterisasi ini dimaksudkan untuk tujuan diagnosis maupun untuk tujuan therapi ( Purnomo, 2006 ) :

1. Tindakan diagnosis antara lain :

a. Kateter pada wanita dewasa untuk memperoleh contoh urin guna pemeriksaan kulture urin. Tindakan ini diharapkan dapat mengurangi resiko terjadinya kontaminasi sampel urin oleh bakteri komensal yang terdapat disekitar kulit vulva atau vagina

b. Mengukur residu (sisa) urin yang dikerjakan sesaat setelah pasien miksi.

c.  Memasukkan bahan kontras untuk pemeriksaan radiologist antara lain :   sistografi atau pemeriksaan adanya refluks vesiko uretra melalui pemeriksaan  voiding cysto urethrografi (VCUG)

d. Pemeriksaan urodinamik untuk menentukan tekanan intravesika

e. Untuk menilai produksi urin pada saat dan setelah operasi besar.

2. Sedangkan tindakan kateterisasi urin untuk tujuan terapi antara lain :

a.  Mengeluarkan urin dari buli-buli pada keadaan obstruksi intravesikal baik yang disebabkan oleh hiperplasi prostat maupun oleh benda asing (bekuan darah ) yang menyumbat uretra.

b. Mengeluarkan urin pada disfungsi  buli-buli.

c. Diversi urin setelah tindakan operasi system urinary bagian bawah, yaitu pada prostatektomi, vesikolitotomy.

d. Sebagai splint setelah operasi rekonstriksi untuk tujuan stabilisasi uretra.

e. Pada tindakan keteterisasi bersih mandiri berkala (KBMB).

f. Memasukkan obat-obatan intaravesika antara lain sitostatika atau anti septic untuk buli-buli.

3.  Kesulitan dalam memasukkan kateter.

Kesulitan memasukkan kateter pada pasien pria dapat disebabkan oleh karena kateter tertahan diuretra pars bulbosa yang bentuknya seperti huruf “S”, ketegangan dari sfingter uretra eksterna karena klien merasa kesakitan dan ketakutan, atau terdapat sumbatan organik di uretra yang disebabkan oleh batu uretra, striktur uretra, kontraktur leher buli-buli, atau tumor uretra ( Purnomo,2006 ). Ketegangan sfingter uretra eksterna dapat diatasi dengan cara   :

a. Menekan tempat itu selama beberapa menit dengan ujung kateter sampai terjadi relaksasi sfingter dan diharapkan kateter dapat masuk dengan lancar ke buli-buli.

b. Pemberian anastesi topical berupa campuran lidokain hidroklorida 2 % dengan jelly 10-20 ml yang dimasukkan peruretrum, sebelum dilakukan kateterisasi

c. Pemberian sedative perenteral sebelum kateterisasi.

4.  Prinsip pemasangan kateter.

Setiap pemasangan kateter harus diperhatikan prinsip-prinsip yang tidak boleh ditinggalkan yaitu :

a. Pemasangan kateter dilakukan secara aseptik dengan melakukan disinfeksi secukupnya memakai bahan yang tidak menimbulkan iritasi pada kulit genetalia dan jika perlu diberi profilaksis antibiotik sebelumnya.

b. Diusahakan tidak menimbulkan rasa sakit pada pasien.

c. Dipakai kateter dengan ukuran terkecil yang masih cukup efektif untuk melakukan drainase urin yaitu untuk orang dewasa ukuran 16F-18F. Dalam hal ini tidak diperkenankan memakai keteter logam pada tindakan kateterisasi pada pria karena akan menimbulkan kerusakan uretra.

d. Jika dibutuhkan pemakaian kateter menetap, diusahakan memakai system tertutup yaitu dengan menghubungkan kateter pada saluran penampung urin (urinbag). Kateter menetap dipertahankan sesingkat mungkin sampai dilakukan tindakan definitive terhadap penyebab retensi urine. Perlu diingat bahwa makin lama kateter dipasang makin besar kemungkinan terjadi penyulit berupa infeksi atau cidera uretra.

Prosedur pemasangan kateter

Tindakan keteterisasi merupakan tindakan infasive dan dapat menimbulkan rasa nyeri sehingga jika dikerjakan dengan cara yang keliru akan menimbulkan kerusakan saluran uretra yang permanen ( Purnomo,2006 ). Oleh karena itu sebelum menjalani tindakan ini klien harus diberi penjelasan dan menyatakan persetujuan tindakan medik ( informed consent ).

1. Persiapan alat

a. Kateter steril, sesuai ukuran yang dibutuhkan.

b. Kapas sublimate steril dalam tempatnya.

c. Kain kasa steril bila perlu

d. korentang steril pada tempatnya

e. Lubrikan (cairan pelumas) /jelly

f. Bengkok dua buah untuk kapas kotor dan penampung urin

g. pinset anatomis steril

h. Sarung tangan steril

2. Persiapan klien

a. Klien diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan.

b. Pasien diatur dalam posisi dorsal recumbent

3. Pelaksanaan pemasangan keteter

a. Pasang sampiran/scherm dan pintu ditutup

b. Perlak dan alas diletakkan dibawah bokong

c. Letakkan dua bengkok diantara kedua tungkai klien

Teknik pemberian jelly

1. Kateter dengan jelly yang dilumuri pada ujung kateter ( Purnomo,2006 ) :

a.   Penderita tidur terlentang, operator berdiri disebelah kanan penderita.

b.   Pakai sarung tangan steril, desinfeksi sekitar genetalia eksterna kemudian tutup dengan doek lubang, meatus uretra eksterna dibersihkan dengan larutan anti septik, pada yang belum sirkumsisi preputium harus dibuka lebih dahulu.

c.   Kateter yang telah diolesi dengan pelican/ K.Y. jelly dimasukkan keadalam urefisium eksterna. Pelan-pelan kateter didorong masuk dan kira-kira pada daerah bulbo-membranasea ( yaitu daerah sfingter uretra eksterna ) akan terasa tahanan  dalam hal ini pasien diperintahkan untuk mengambil nafas dalam supaya sfingter uretra eksterna menjadi lebih rileks.

d. Kateter terus didorong hingga masuk ke buli-buli yang ditandai dengan keluarnya urin dari lubang kateter.

e.   Sebaiknya kateter terus didorong masuk ke buli-buli lagi hingga percabangan kateter menyentuh meatus uretra eksterna.

f. Balon kateter dikembangkan, fiksasi dengan memasukkan aquades steril 5-10 ml, bila tidak menetap kateter dicabut perlahan-lahan sambil klien dianjurkan menarik nafas panjang.

2. Prosedur pemasangan  dengan jelly yang dimasukkan langsung pada meatus uretra eksterna ( Dudley, Eckersley, dan Paterson, 2007 ).

a. Tangan kiri petugas memegang penis klien dengan kain pengalas atau kasa. Preputium ditarik sedikit kepangkalnya dan dibersihkan dengan kapas sublimate  sekurang-kurangnya tiga kali.

b. Dengan memakai sarung tangan, spuit 10 cc yang sudah terisi jelly kemudian tangan kanan menyemprotkan jelly kedalam meathus uretra eksterna, urut kearah proksimal, dan biarkan jelly beberapa saat.

c.  Kateter dimaksukkan kedalam uretra perlahan-lahan dan pasien dianjurkan untuk menarik nafas panjang selanjutnya sama dengan cara pertama.

d. Setelah selesai pasien dirapikan kembali.

e.Peralatan dibersihkan, dibereskan dan dikembalikan ketempat semula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s